Ikatan Warga Gaduik

Jabodetabek & sekitarnya

Aplikasi Nilai-Nilai Ramadhan Pasca Idul Fitri

leave a comment »

(oleh : Abdul Gaffar Ruskhan Malin Batuah)

Bulan Ramadan telah berlalu dan berganti dengan bulan Syawal Idulfitri). Jika Ramadan merupakan bulan yang berfungsi sebagai sarana pelatihan muslim dan penyucian diri, bulan Syawal merupakan bulan untuk menkmati hasil dan meningkatkan kuantitas daan kualitas ibadah.

Ramadan yang merupakan bulan puasa disiapkan Allah SWT sebagai sarana pembentukan mukmin menjadi manusia yang bertakwa.(muttaqin). Selain menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seks, orang mukmin dibina menjadi insan yang mampu mengendalikan diri dari dorongan hawa nafsu dan emosi yang tak terkendali. Selain itu, berbagai sifat terpuji dalam konteks kehidupan pribadi maupun sosial  akan terbentuk selama bulan puasa.

Idulfitri 1431 H telah kita rayakan. Kita akan menghadapi hari-hari yang penuh tantangan. Untuk itu, perlu kita ungkap sebagian nilai-nilai yang terbentuk selama bulan Ramadan yang dapat kita aplikasikan dalam menghadapi kehidupan keseharian kita selepas Ramadan.

Peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah

Dalam bulan Ramadan orang beriman mengisi malam-malamnya dengan melaksanakan ibadah  (qiyamullail), seperti salat fardu berjemaah, salat tarawih dan witir, dan salat malam. Bagi mukmin kebiasaan melaksanakan ibadah-ibadah itu akan membentuk kedisiplinan beribadah. Nilai yang disediakan Allah terhadap orang yang rajin beribadah di bulan Ramadan tinggi sekali. Hal itu mendorongnya untuk lebih giat lagi beribadah dengan ikhlas. Kebiasan itu mestinya diteruskan pada bulan di luar Ramadan. Bukan hanya kuantitas ibadah, melainkan kualitasnya harus ditingkatkan. Dengan begitu, mukmin yang berhasil melalui pelatihan Ramadan harus lebih giat lagi beribadah dengan kualitas yang meningkat pula. Perhatikan hadis Rasulullah saw.

Inna afdalil’a’mal ‘indallahi adwamuha wain qalla. “Sesungguhnya ibadah yang paling disukai Allah adalah ibadah yang dilaksanakan dengan tertib dan teratur walaupun jumlahnya sedikit.”

Pengendalian diri

Puasa akan membentuk mukmin yang mampu mengendalikan diri. Pengendalian diri dilakukan pada bulan puasa dengan menyadari bahwa puasa berarti manahan diri dari makan, minum, dan besebadan pada siang hari. Hal itu menunjukkan bahwa saim (orang berpuasa) diharapkan mampu mengandalikan kehendak hawa nafsunya yang ditundukkan dengan kepatuhan terhadap kendali Allah. Jika ada orang yang mencoba mengajak kita untuk membatalkan atau mebaangkitkan emosi kita, saim akan mengatakan, “Maaf, saya sedang berpuasa (Inni sa’im).” Dengan demikian, dia tidak terpancing dengan rayuan dan  godaan nafsu.

Pengendalian diri penting dalam kehidupan kita yang serba kompleks ini. Dalam konteks sosial banyak hal yang dapat menimbulkan emosi yang tak terkendali. Jika kita tidak pandai mengendalikannya, ada kemingkinan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti salah paham, kebencian, perselisihan,  permusuhan, dan fitnah. Tidak jarang orang mudah tersinggung karena lirikan mata, ucapan/kata-kata, dan tindakan yang tidak menyenangkan. Ingat firman Allah:

Innan nafsa laammaratu bissu’ (Sesunggungnya nafsu itu mengajak ke arah keburukan (kebencian, perseteruan, dsb)”

Tujuan puasa adalah menciptakan muslim yang mutakin (bertakwa). Salah satu ciri mutakin adalah orang yang mampu menahan emosi seperti dalam penggalan Surah Albaqarah: 133:

… u’iddat li muttaqin…. Walkaziminal gaiza (Sorga disediakan untuk mutakin, yaiyu … orang yang mampu menahan amarah).

Berbahagialah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan mengarahkan ke jiwa yang tenang, sesuai dengan firman Allah:

Qad aflaha man zakkaha wa qad khaba man dassaha (Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dan merugilah orang yang mengotorinya)”

Keberadaan kita di luar Ramadan mestinya dapat menjadikan diri kita senantiasa dalam kendali Ilahi dengan kemampuan mengendalikan diri, mengatur irama hidup dengan rida Ilahi, dan mengelola hati menjadi hati yang suci.

Keikhlasan

Syarat bermaknanya suatu amal dalam Islam adalah ikhlas. Puasa yang dilakukan selama sebulan harus ikhlas. Jika tanpa ikhlas, puasa tidak bernilai sama sekali.

Ikhlas merupakan ketulusan hati yang karena mengharapkan rida Allah SWT. Di dalam hidup sering orang melakukan sesuatu karena mengharapkan pamrih dari apa yang dilakukannya. Bisa jadi melakukan sesuatu karena ingin dipuji, diahargai, diangap dermawan, dsb. Sikap batin seperti itu akan melunturkan nilai kebajikan yang dilakukan. Jika kita berpuasa karena segan kepada orang yang kita hormati, yakinlah bahwa puasa itu bernilai nol sama sekali. Jika kita memberi bantuan kepada fakir miskin karena kita orang kaya dan dibutuhkan orang lain (ria), dapat dipastikan bahwa pemberian kita itu sia-sia belaka. Allah berfirma dalan Albarah: 247 (lihat juga Alanfal:47; Annisa:38; Ali Imran:188).

Ya ayyuhallazina amanu la tubtilu sadaqatikum bilmanni walaza kallazina ynfiqu malahu ri’a annas... (Hai mukmin, jangan kamu hilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti orang yang disedekahi, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria…”

Ria merupakan sikap batin yang tampak pada perbuatan yang digolongkan sebagai pendusta agama dan kecelakaan terhadap pelakunya. (lihat Surah Almau’un:6).

Jika kita ingin beramal yang bernilai di sisi Allah SWT, terutama selepas puasa menjelang puasa tahun depan, keikhlasan menjadi syarat mutlak. Sayang jika hidup kita menjadi sisa-sia karena tidak cerdasnya kita menjadikan ikhlas sebagai faktor utama beramal. Perhatikan Surah Albayyinah:5):

Wama umirtu illa liya’budullaha mukhlisina lahuddin (Aku tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan meurnikan ketaatan kepada0Nya ( ikhlas) dalam menjalankan agama yang lurus).

Keimanan yang sempurna justru dari keikhlasan yang dimiliki mukmin. Keikhlasan itu berlaku dalam segalah hal. Rasulullah bersabda dan hadis riwayat Abu Daud:

Man a’tha lillahi ta’ala wamana’a lillahi ta’ala, waahabba lillahi ta’ala, waabgadha lillahi ta’ala, waankaha lillahita’ala faqadistakmala imanuhu.

(Siapa yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, dan menikah karena Allah sempurnalah imannya)’

Kejujuran

Puasa telah menjadi sarana pembentukan nilai kejujuran. Kejujuran dalam puasa hanya kita dan Allah yang mengetahuinya. Berpuasa atau tidak kita dan Allah yang tahu. Walaupun malam hari kita ikut sahur dan magrib ikut berbuka, apakah benar kita berpuasa tentu kita dan Allah yang tahu. Bibir boleh kering, badan boleh terlihat lemas, meludah boleh sering dilakukan, tetapi berpuasa atau tidak secara hakiki tidak ada yang tahu. Karena itu, kejujuran menjadi syarat mutlak dalam pelaksanaan ibadah.

Di dalam kehdupan sehari-hari, orang yang jujur, katanya, sulit ditemukan. Ada ungkapan “lurus kurus” adalah ungkapan tidak islami. Justru kejujuran itu yang dapat menjadikan hidup penuh kedamaian. Bukankah ada juga ungkapan “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak percaya?” Hal itu mengisyaratkan bahwa ketidakjujuran akan merusak tata pergaulan hidup kita.

Jika kita sebagai penguasa/pegawai, jujurlah dalam memegang amanah negara; jika kita pengusaha, jujurlah mengadakan bertransaksi dan berproduksi; jika kita pedagang, jujurlah dalam menakar dan menimbang; jika kita guru/dosen, jujurlah dalam tugas dan keilmuan; jika kita siswa/mahasiswa, jujurlah terhadap orang tua dan guru; dst. Kejujuran merupakan kontrak kita dengan Allah bahwa kebebasan yang diberikan-Nya kepada kita harus kita jalani sesuai dengan aturan-Nya.

Kesetiakawanan

Selama bulan Ramadan, umat Islam dituntut untuk dapat memberikan sebagian harta bendanya kepada orang yang membutuhkannya. Sedekah, infak, buka bersama, dan zakat ftrah/harta menjadi amaliah yang berkuantitas dan berkualitas tinggi. Seseorang yang sebelum puasa jarang memperhatikan fakir miskin justru pada bulan itu ada getaran jiwanya untuk berbagi kepada orang lain yang dilaksanakan dalam bentuk sedekah, infak, dan berbuka bersama. Sikap demikian memperlihatkan betapa kestiakaanan sosial itu tumbuh dan subur dalam bulan puasa. Bahkan, untuk mengakhiri Ramadan ada kewajiban individual untuk mmberikan zakat fitrah. Peruntukannya adalah pihak-pihak yang berhak menerimanya. Fakir miskin diberi zakat agar pada hari raya yang penuh kebahagiaan dan kegembiraan itu dinikmati pula oleh fakir miskin.

Di samping dapat membantu orang yang membutuhkan, sedekah dan infak merupakan sarana untuk memperbanyak rezeki dari Allah. Semakin banyak kita bersedekah dan berinfak, Allah akan melipatgandakan anugerahnya kepada kita. Rasullulah bersabda dalam riwayat Muslim:

Qalallahu tabaraka ata’ala, ya bani Adam, anfiq unfiqu ‘alaika (Allah tabarakallahu wata’ala berfirman (dalam hadis qudsi, “Hai anak Adam berinfaklah (keluarkan infak hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah lepadamu.”

Berinfak dan bersedekah harus merupakan bagian hidup kita, baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan lapang. Hidup sulit jangan menjadi kendala untuk bersedekah atau berinfak. Sebaliknya, kelapangan hidup mestinya mendorong kita untuk lebih banyak lagi bersedekah dan berinfak. Salah satu ciri mutakin sebagai buah puasa adalah orang yang gemar berinfak, baik dalam kelapangan maupun dalam kesusahan. Perhatikan firman Allah dala Syrah Ali mran:133.

Allazina yunfiquna fissarra’i waddarra’i (ciri mutakin: orang yang berinfak dalam situasi lapang maupun situsi sulit”.

Kebiasaan bersedekah dan berinfak selama puasa harus diaplikasikan di luar puasa. Sebaliknya, jangan kebiasaan berinfak dan bersedekah itu berhenti begitu selesai Ramadan.

Kesabaran

Sabar merupakan ciri orang bertakwa. Latihan bersabar telah dilakukan dalam puasa. Ada kesabaran kita bangun tidur tengah malam untuk sahur, kesabaran beribadah pada malam hari, kesabaran kita bertanggang malam untuk zikir, tadarus, dan qiamulail, serta kesabaran kita menunggu waktu berbuka. Semuanya dimaksudkan agar mukmin dapat mengatur hatinya dalam segala akktivitas puasa, baik siang mapum malam.

Kesabaran yang terbentuk selama puasa merupakan modal kita dalam manjalani kehidupan keseharian kita di luar puasa. Sebagai karyawan, seseorang harus sabar melaksanakan tugas dan mengatur biaya hidup untuk sebulan sampai gajian berikutnya; pedagang harus sabar menunggu dagangannya yang datang membeli dan dagangannya yang rugi; seorang guru/dosen harus sabar mengahapi tingkah polah siswa/ mahasiswanya; pengusaha sabar menghadapi bisnisnya yang  bermasalah dan merugi; dst. Pokoknya kesabaran penting dalam melaksanakan ibadah dan aktivitas kita masing-masing. Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj: 34—35:

Wabasysyiril mukhbitin … wassabirina ‘ala ma ashabahum. (Dan beri kabar gembiralah orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah, yaitu …orang-orang yang sabarterhadap apa yang menimpanya.)

Di antara nilai-nilai puasa, baik peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah, pengendalian diri, keikhlasan, kejujuran, kesetiakawanan, dan kesabaran dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan pada bulan-bulan di luar puasa. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup dengan senantiasa di bawah kendali aturan Ilahi. Amin.

Written by Yerry Edvian

September 26, 2010 pada 10:57 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: